Jumat, 10 Mei 2013

My Artwork again..

I try to make a fansArt from vocaloid, Kagamine Rin and Len... how do you think?
the scene is from "the servant of evil"
 



I think this one was failed... T_T


I just make an original character...



Kamis, 07 Maret 2013

POSTER ANTI ROKOK

aku pernah mengikuti lomba membuat poster secara berkelompok. partnerku dalam pembuatannya adalah sahabatku sendiri, kami membuat konsepnya bersama dan mengerjakannya bersama.. ini adalah kolaborasiku yang terakhir dengannya untuk selamanya karena dia sudah dijemput lebih dahulu oleh Allah.. Semoga Allah menjaganya...
sayangnya karya ini belum dapat menang... ini lomba tingkat kabupaten ketika usiaku 16 tahun...
ini karya kami...


dan ini pemenangnya di peringkat pertama.... aku lupa siapa nama peserta yang membuatnya....

My Art

these are some of my art.. well, i love drawing! ^^
are these quite good? i'm not really good at drawing but i really love it.. :-)

1. i try to make my nephew's sketch..

2. i just draw it in my free time.. it's fan art of Rima from anime Vampire Knight.. may be? i didn't really remember..

3. it's about memories of my beloved friends...

4.i think this one is not really good..

5.

Jumat, 08 Februari 2013

THE HIDEN DARKNESS

yo! long time no see..
terlalu lama malah.... yah.. biasa orang malas... ini lanjutan The Hiden Darkness, well, aku pikir cerita ini mungkin tak begitu bagus, tapi aku selalu memikirkan mendiang sahabatku saat menulisnya. yah, aku ingin mempersembahkan karya ini untuknya. aku sudah berusaha menulisnya sebaik mungkin, tapi tetap saja ada kesalahan di sana - sini. mungkin kelak kalau karya ini bisa kuselesaikan (mengingat selama ini aku tak pernah menyelesaikan sebuah karya pun) aku akan kembali melakukan perbaikan... Nah, ini dia..

BAB I

Sore yang cerah, tampak sebuah mobil hitam dengan dua penumpang di dalamnya berhenti di halaman depan sebuah bangunan tua di puncak bukit. Bangunan itu tampak megah, sekaligus angker. Bangunan bergaya Victorian England itu terdiri dari tiga lantai. Dindingnya bercat putih tulang. Dengan bingkai – bingkai jendelanya berwarna cokelat yang senada. Seorang gadis berambut hitam panjang yang dikepangnya di belakang segera membuka pintu mobil dan berlari ke pintu depan yang besar.  Ia memukul lonceng yang berfungsi sebagai bel di rumah itu. Wanita yang tadi menyetir ikut turun dan menghampiri putri semata wayangnya. Tak lama, seorang wanita lain yang cukup tua membuka pintu itu.
“silahkan masuk nona, nyonya.. tuan sedang istirahat di kamarnya.. err.. saya rasa” kata bibi Minerva, maid yang sudah bekerja di rumah itu selama puluhan tahun, sehingga ia sudah tampak tua. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Sementara gadis tadi langsung masuk dan mencari – cari kakeknya. Sudah sepuluh tahun lamanya ia tidak menjelajahi rumah itu, bahkan ia sudah tidak begitu ingat bagaimana ruangan – ruangan dalam rumah itu tertata hingga membuatnya tampak seperti rumah yang amat membingungkan. Satu persatu pintu yang diingatnya dibukanya, kepalanya menengok ke dalam mencari sosok sang kakek, namun tak ditemukannya juga.
Dia masuk ke suatu ruangan lain, ruangan itu tampak gelap dan terasa dingin, banyak buku - buku tua dan perkamen - perkamen yang berserakan di sana, sebuah meja kerja, dan ada sebuah benda yang terselubung oleh kain abu – abu besar berada di tengah ruangan. Dengan rasa penasaran yang amat sangat, yang belum pernah ia alami sebelumnya, gadis itu mendekati benda terselubung itu.
“Fay?”
Suara serak dan berat memanggilnya dari belakang, selangkah lagi ia membuka selubung itu, namun ia berbalik, menghadap ke arah suara yang memanggilnya.
“kakek!” serunya riang seraya memeluk kakeknya.
“kapan kau tiba?”
“baru saja! Aku sedang mencari kakek, dan menemukan ruangan ini, aneh, baru kali ini aku menemukan ruangan ini, aku suka deh sama rumah kakek!” katanya,
“ya.. ya.. rumah kakek memang unik.. tapi.. jangan masuk ke ruangan ini lagi ya Fay..” kata kakeknya dengan tersenyum namun dengan sedikit ekspresi cemas tergambar di wajah keriputnya yang nampak bijaksana.
“kenapa? Apa yang salah dengan ruangan ini?” tanyanya bingung,
“pokoknya dengarkan saja kakek.. ayo kita bereskan dulu barang – barangmu…” Fay hanya mengangguk dan mengikuti kakeknya keluar.
“….fay….”
Fay tersentak, ia spontan menengok ke dalam ruangan, alisnya mengkerut, ia merasa ada suara bisikan yang memanggilnya tadi, tapi siapa?
“fay? Ada apa? Ayo jalan..” kata kakeknya membuyarkan lamunannya. Ia berbalik lagi dan mengikuti kakeknya.
“Lucia!” kakek Mervyn merangkul putrinya yang baru saja naik mencari mereka, Lucia balas memeluk ayahnya dan melirik putrinya, Fay.
“hai, bu!” ibunya tersenyum padanya, kemudian menggandeng ayahnya.
“ayah.. bagaimana kabar ayah?”
“yah.. beginilah.. seperti biasa..” katanya hangat sambil tertawa. Mereka bertiga kembali turun dan mengobrol di ruang makan yang berada di lantai satu. Lucy menjelaskan bahwa Fay akan tinggal selama musim panas, ia dan suaminya tak bisa menjaganya karena ada urusan pekerjaan di negara lain dan tidak bisa mengajak fay, maka mereka menitipkannya di sini selama liburan musim panas berlangsung. Saking sibuknya ibunya Fay langsung pergi lagi setelah makan malam dan memeluk fay, ia kembali menyusul suaminya. Sementara Fay merapikan kamar yang akan ditempatinya dibantu oleh bibi Minerva.
***
                                Langit malam tampak memukau malam itu. Bintang – bintang tampak jelas terlihat, dari balkon kamar yang berada di lantai dua rumah tua itu, tampak seorang gadis bermata zamrud tengah menengadah ke langit. Mengamati  jutaan permata yang ada di atas sana. Dia berpikir, dan terus mengembara dalam pikirannya. Ada yang salah, ia merasa sejak ia datang ke tempat ini ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa rindu yang amat sangat dengan sesuatu, tapi ia tak tahu apa itu. Ia merasa harus melakukan sesuatu, tapi juga tak tahu apa. Ia bingung hingga tak bisa tidur, dari tadi hanya memandang langit. Dipejamkannya matanya, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
                                Ia tersentak, sekali lagi ia merasakan sesuatu yang ganjil, ia berbalik, namun tak ada apa apa. Ia pun mengenakan jaket bertudungnya dan keluar dari kamarnya. Hari sudah larut dan semua orang sudah tertidur. Koridor yang gelap tampak seram, tapi gadis itu tak takut, tanpa sadar ia sampai pada ruangan aneh yang ia temui tadi siang. Dan bisikan di telinganya kembali, ‘buka selubung itu’, bisikan itu terus memenuhi kepalanya hingga ia pun tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Ia masuk tanpa ragu, dan perlahan ia membuka kain yang menyelubungi benda di tengah ruang itu. Sebuah cermin. Hanya sebuah cermin tua. Namun ia merasa ganjil, bayangan dirinya tidak ada di cermin itu. Ia goyangkan telapak tangannya di depan cermin, tapi tak ada apapun yang memantul disana, yang ada hanya pantulan ruangan itu. Namun perlahan, pantulan bayangan seseorang mulai muncul, awalnya buram, namun lama – lama mulai jelas, Fay mengamati dengan heran, ‘apa ini semacam komputer dengan model yang unik?’ pikirnya, tapi tadi ia tak menyentuh permukaan cermin itu, jadi ia membuang jauh – jauh pemikirannya barusan.
                                Ia terkejut, kini muncul di hadapannya, bayangan dirinya, sangat persis, terutama mata hijau zamrud itu. Tetapi bayangan itu berambut merah, ia tampak pucat, wajahnya menggambarkan kesedihan, ia memakai gaun panjang tanpa lengan berwarna putih. Ia memandang Fay, Fay diam dan tak dapat berkata – kata. Namun bayangan itu mulai menggerakkan mulutnya, ia berbicara. Dengan suara lembut yang ia dengar saat pertama kali ia mendengar namanya di sebut tadi siang.
                                “Fay Minstrel..” dia mulai bicara, Fay masih diam, mulutnya sedikit terbuka, ia terbelalak kaget. “jangan takut.. saudaraku..” ia tersenyum lemah.
                                “a.. aku.. k.. kau…” jawab Fay terbata – bata.
                                “aku tau.. kau tak perlu bicara.. waktuku tak banyak Fay… aku bukan hantu cermin atau apapun.. aku Vie Arvirclaire.. aku ada di dimensi lain.. kau.. dan aku.. kita kembar.. tapi terlahir di dua dunia yang berbeda..kita bisa saling memahami.. tanpa harus bicara….”
                                “be.. benarkah?” kata Fay tampak ragu.
                                “ya.. aku butuh bantuanmu Fay.. karena aku tak akan bisa melakukannya sendiri, namun aku tak dapat menjelaskannya sekarang, tapi kau harus ikut denganku..”
                                “tapi bagaimana caranya? Bagaimana dengan kakek? Kekek akan mencariku, semua akan khawatir..” Fay yang entah kenapa dapat percaya dengan mudah dan sudah tenang  mulai paham akan keberadaan Vie, namun belum mengerti apa masalahnya.
                                “kita tinggalkan pesan untuk kakekmu,” sebuah perkamen berlogo kerajaan beserta pena muncul di tangan Fay, ia tersentak, “tulislah Fay, kita tak punya banyak waktu, cepat” wajah Vie tampak makin pucat dan sedih, tanpa pikir panjang Fay mulai menulis dengan cepat dan meletakkan pesan itu di depan kaki cermin.
                                Tangan putih Vie menyentuh permukaan cermin, “pegang tanganku Fay..” katanya tersenyum lemah. Fay menyambutnya, ia letakkan kedua telapak tangannya ke telapak tangan Vie, kemudian ia merasakan sensasi aneh. Dari tangan Vie yang terasa dingin mulai terasa tekanan, mereka mulai di kelilingi gelombang listrik statis. Fay agak terkejut, tapi ia terus menatap Vie.
                                Vie memejamkan matanya, Fay merasa mereka di kelilingi cahaya putih, kemudian ia merasa dunianya berputar, berputar dengan cepat. Angin kencang mengelilingi mereka. Ia pun ikut memejamkan mata. Perlahan tekanan itu berhenti, angin berhenti. Mereka berdua membuka mata, namun Vie tampak transparan. Ruangan kosong itu menghilang, digantikan pemandangan hutan di malam hari. Mereka berada di tengah danau sekarang, namun mereka melayang di udara. Menyadari dirinya melayang, ia terkejut dan memeluk saudara kembarnya.
                                “kita tak akan jatuh.. ayo kita ke tepi…” kata Vie lembut, dan mereka pun melayang ke tepi danau. “dengar Fay, aku tak akan bertahan lama, aku benar – benar harus pergi sekarang..”
                                “tapi.. kenapa?” tanya Fay cemas.
                                “kau akan mengerti nanti.. lihat.. kita punya tanda yang sama..” Vie menunjuk lehernya, dan di situ perlahan muncul garis – garis bercahaya yang membentuk pola aliran air mengelilingi lehernya, kemudian ia menunjuk leher Fay dan muncul tanda yang sama, Fay terbelalak, namun ia tak mampu lagi bicara..
                                “kau tunggu saja di sini, seseorang di sini akan menemukanmu.. jika kau bertemu siapa saja yang berambut perak dan bermata Ash, tunjukkanlah tanda itu.. mereka akan menolongmu..” Vie semakin tak terlihat.
                                “tapi Vie, aku tak tau caranya” kata Fay cepat,
                                “percayalah padaku Fay, Tunggulah di sini.. aku sudah.. tak punya waktu.. maafkan aku..” Vie memegangi dadanya, ia merintih kesakitan.
                                “Vie! Kau kenapa?!”
                                “tunggulah di sini Fay, aku.. tak bisa lama – lama..” Fay menatap Vie penuh kekhawatiran,
“Fay.. ambil ini.. untuk menemukan pasangannya..” Vie menyerahkan sebuah kalung kepada Fay, kalung itu berliontin sebuah kotak berwarna perak. “tunjukkan benda ini.. hanya kepada Liz..atau Zen.. kalian.. bisa menolongku.. jagalah baik – baik…” Vie semakin menghilang, sementara Fay masih tak paham apa yang harus di lakukannya. “ sampai.. jumpa..” dan sedetik kemudian Vie menghilang.
                                “Vie! Vie! Apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu? Kembalilah Vie! Viiiiiiiiieee!!!!” Fay berteriak, air matanya menetes,  ia baru saja bertemu saudara kembarnya, namun mereka harus berpisah lagi.
                                Sepeninggal Vie, Fay duduk di sana dan menunggu. Ia merapatkan jaketnya dan memakai tudungnya untuk mengusir dingin. Ia termenung memandangi danau, ia menyadari tempat itu tidaklah gelap, bunga bunga laveder yang mengelilingi danau itu bercahaya. Ia mengamati sekelilingnya, hanya danau bundar dan sekelilingnya saja yang tidak gelap, selebihnya seperti hutan lain di malam hari yang gelap gulita. Tak lama Fay mendengar langkah kaki, dan suara dua orang berbicara.
                                “apa yang akan kita lakukan ke tempat ini malam – malam?” suara rendah seorang cowok yang sepertinya berbicara dengan seseorang didengar Fay. Perlahan Fay membalikkan badannya dan mengawasi.
                                “aku merasa kita harus kesini, diamlah” kata seorang gadis.
                                Kedua orang itu sampai di hadapan Fay, namun mereka masih tersembunyi di balik gelapnya hutan, “Siapa kau?!” kata cowok itu tegas dan penuh penekanan membuat Fay takut. Kenapa pikirannya tak dapat terbaca olehku, batin cowok itu. Cowok itu mencabut pedangnya dan mendekati Fay.
                                “ja- JANGAN MENDEKAT!” jerit Fay yang panik karena melihat pedang itu sambil membuat  satu tangannya teracung ke depan dan memberi isyarat agar cowok itu berhenti. Namun sekali lagi, Fay merasakan tekanan energi yang dikeluarkan Vie, keluar dari tangannya, dan ia pun menyadari cowok tadi sudah terhempas ke belakang. Gadis yang menjadi temannya tadi mengeluarkan pedangnya dan mendekati Fay dengan tergesa untuk membalasnya, Fay yang terkejut jatuh terduduk, namun secara tiba – tiba ia berhenti. Pedangnya terjatuh, ia membelalak memandang Fay yang kini tudungnya telah terbuka, “tidak.. mungkin..” bisiknya.
                                Cowok tadi pun segera bangkit dan cepat menghampiri gadis tadi, namun segera ia berhenti, ia ikut terkejut memandang Fay. Fay yang kini dapat melihat mereka dengan jelas langsung terperangah, rambut perak dan mata Ash, seperti yang dikatakan Vie. Yang gadis berambut perak panjang, sepertinya sekitar usia sembilan belasan, memakai pakaian yang tampak seperti gaun berwarna cokelat, namun tak sepenuhnya seperti gaun, bagian atasnya berlengan lebar hingga ke sikunya, dari atas dada hingga pinggangnya terlilit oleh kain yang lebih coklat yang di satuan dengan semacam sulur tanaman, bagian bawahnya berwarna coklat muda, hanya selembar kain panjang yang terikat di pinggangnya dengan sarung pedang yang juga masih menggantung di sana. sementara cowok itu memakai pakaian seperti seorang ksatria dan tampak setahun lebih tua dari si gadis. Ia mengenakan pakaian yang bahannya sepertinya tak jauh beda dari si gadis, namun dengan lengan panjang dan celana panjang serta sepatu boots, oh, ternyata gadis itu juga mengenakan boots, mereka berdua mengenakan mantel yang juga berwarna coklat. Unik bagi Fay, sementara ia mengenakan celana selutut, tanpa alas kaki, dan kaos yang tersembunyi di balik jaketnya. Tanpa basa basi Fay berdiri dan berbicara.
                                “v,Vie.. bilang kalau seseorang dengan rambut perak dan mata Ash akan menolongku..” kata Fay takut – takut.
                                “Vie.. katamu?” kata gadis itu sambil mendekati Fay, lepas dari rasa terkejutnya dan melihat mata Fay dalam – dalam. Ia kemudian melihat leher Fay, disentuhnya leher Fay, dan tanda itu muncul kembali. Ia sedikit terkejut, lalu tersenyum. Ia memandang cowok tadi, cowok tadi ikut tersenyum.
                                “maafkan kami nona… kami keterlaluan.. siapa namamu?” tanya cowok tadi yang sekarang nada bicaranya telah berubah menjadi lembut.
                                “namaku.. Fay.. Fay Minstrel….”
                                “namaku Liz..” kata gadis tadi, “dan aku Zen..” sambung cowok tadi.
                                “Liz? Zen? Vie pernah menyebut nama kalian..”
“dan sepertinya kami harus menjelaskan banyak hal padamu..” kata Liz lagi. Dan mereka pun duduk bertiga disana, dan bercerita. Segalanya akan dimulai dari sini.
                                Di tempat lain, tepatnya di kamar Fay, kakeknya tak menemukan cucunya, mulanya ia ingin menengok apakah Fay sudah tidur, namun ia tak menemukannya. Dengan cepat ia menduga, segera saja ia pergi ke ruangan rahasianya itu dengan tergesa. Pintunya terbuka, ia masuk namun tak mendapati seorang pun di sana. Ia mulai cemas, dilihatnya selubung itu tergeletak di lantai, lalu pandangannya beralih pada segulung perkamen yang ada di depan cermin. Segera diambil dan dibacanya.
                            Dear kakek Mervyn,
            Jangan khawatirkan aku, aku hanya akan pergi sementara, aku pasti bisa kembali, seseorang membutuhkan bantuanku. Aku yakin aku bisa membantunya, dia sangat berarti bagiku. Kakek, jangan bilang apa apa pada ibu, kumohon. Kakek, aku buru – buru, pokoknya tenang saja ya! Aku sayang kakek, aku sayang kalian semua, percayalah padaku.
Fay
                                Mervyn Minstrel menghela nafas, ia kembali teringat pada kejadian di masa lampau yang hampir sama, namun tanpa pesan, dan tak ada yang kembali.
                                “semoga kau kembali dengan selamat bersamanya Fay…” doanya dalam hati.